Jauhkan. Aku seperti gemericik embun dipadang gersang. Memantrakan sepertiga bisikan lirih. Perempatan itu masih nampak seperti kuil. Meski genderang nya sedikit tersumbat mata batin. Serasa hati jika diumpan dengan tatapan tajam. Bibirnya hampir terasa seperti belahan tebu. Matanya menusuk hingga bilik perasa. Aku seperti penyair. Berteman pena serta segala nyanyian amor yang melebarkan angan. Terhempas. Mata itu masih ada meskipun gusar. Temperaturnya mengikuti arus hati. Menghangat bahkan terlalu menggigilkan tanda-tandaku. Entah bahkan entah seperti apa perjalanan bintang menuju arusnya. Aku seperti pencipta yang kehilangan cara. Suara frekuensi tumbukan upacara kematian. Syair syairnya masih nampak seperti lautan mati dan senja nila. Selayaknya burung tanpa darah. Dan aku tanpa tanda penyelesaian. Mengiris mematikan.